Belum Ada Turunan UU Perfilman, Digital Menjadi Tantangan Terbesar LSF

Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Rommy Fibri Hardiyanto. (Foto : Bicarajakarta.com)


Bisnispost.com, Jakarta – Rommy Fibri Hardiyanto terpilih sebagai Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) untuk periode 2020-2024. Rommy akan ditemani Ervan Ismail sebagai wakil ketua LSF. Sebelumnya, Rommy dan 16 anggota LSF lainnya telah dilantik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim.

Sebagai ketua LSF yang baru, Rommy memetakan berbagai permasalahan dalam LSF. Seperti di antaranya minimnya anggaran LSF yang harus diptimalkan, juga dampak Pandemi Corona yang menuyisakan banyak persoalan, sampai mengenai dunia digital yang menjadi tantangan terbesar LSF.

“Tantangan terbesar LSF itu digital karena semua orang bicaranya bagaimana film di dunia digital “ kata Rommy Fibri Hardiyanto kepada wartawan, di Gedung Film Pesona Indonesia, Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2020)

Lelaki kelahiran Semarang, 14 Februari 1972 itu lebih lanjut menerangkan, selama empat tahun yang lalu, LSF belum sampai ke sana “Bagaimana menangani dunia digital yang isinya film, ke depan inilah jadi tantangannya, “ terang Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi UGM (1991).

Menurut Rommy, kalau flatform-nya sudah jelas konvensional itu sudah clear buat LSF, seperti film bioskop, TV, CD. “Tapi kalau flatform-nya digital, LSF tidak bisa jalan sendirian, harus kerjasama dengan Kominfo dalam regulasinya, “ paparnya.

Tayangan di TV, kata Rommy, harus disensor oleh lembaga yang berwenang sebagaimana yang ditetapkan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) adalah LSF. Semua program tayangkan TV dikirimkan ke LSF untuk disensor, tapi kalau flatform-nya digital masih perlu dibicarakan siapa yang menyensor. “Apakah flatform-nya sendiri yang menyiarkan yang menyensor,” ujarnya.

Rommy menyampaikan, bahwa ke depan, LSF memang harus berkoordinasi secara intensif dengan Kominfo. “Nah, inilah yang perlu kita siapkan regulasinya!“ tegas Rommy.

Dalam UU Perfilman hanya menyebutkan bahwa semua film yang akan dipertunjukkan di Indonesia harus mendapatkan lulus sensor dari LSF. “Hanya itu saja, tanpa ada turunannya. Sementara itu, digital sangat global, bahwasannya digital memang jadi tantangan terbesar LSF, “ tutur Rommy.

Rommy menyebut anggaran untuk LSF sekitar 50 Milliar. “Cukup tidak cukup tentu relatif, dengan anggaran yang ada, kita optimalkan, dimana ada legiatan yang sifatnya full anggaran dari LSF, tapi ada juga kegiatan yang sifatnya berbentuk kerjasama, dimana LSF hanya parsial partisipasi, “ paparnya.

Terkait pandemi Corona, kata Rommy, secara otomatis LSF tidak banyak bekerja karena film-film bioskop tidak tayang, begitu juga TV banyak menayangkan rerun program yang sudah tayang beberapa waktu lalu. “Tapi LSF tetap membuka pelayanan untuk penyensoran, faktanya memang tetap ada penyensoran, tapi berkurang, “ bebernya.

Rommy menyebut beberapa hal yang masih dilakukan LSF. “Seperti di antaranya, sinetron barang lama yang masa royalty untuk STLS sudah habis, kalau belumhabis TV tinggal putar ulang, tapikalau sudah habis masa STLS-nya memang harus sensor ulang, “ urai Rommy panjang lebar.

Memimpin LSF, Rommy memiliki visi yaitu membangun LSF yang independen, akuntabel, kredibel, dan profesional. “Hal ini akan diwujudkan melalui penguatan aspek penyensoran dan optimalisasi lembaga,” tegas Rommy.

Rommy mengaku akan bersinergi bersama seluruh anggota LSF periode 2020-2024. “Saya berharap masukan positif dari masyarakat dapat membangun LSF selama empat tahun mendatang, “ pungkas Rommy sumringah. (bic)


WhatsApp chat