October 25, 2020

Catatan Hari Buku Sedunia : Sebuah Pengakuan


Oleh: Syarifudin Yunus, Pegiat Literasi TBM Lentera Pustaka.

SEBUAH “pengakuan” di Hari Buku Sedunia, hari ini 23 April 2020. Persis jelang 1 Ramadhan 1441 H, bulan puasa. Bulannya kaum muslim untuk menahan diri, memperbanyak ibadah.

Pengakuan, bisa jadi hal yang paling langka di dunia ini. Hari-hari belakangan ini.
Sebuah keberanian, bagi siapapun, untuk mengaku atau mengakui. Mengaku tentang apa saja. Tentang cara atau perbuatan untuk mengaku, dalam hal apapun. Sesuatu yang harus diakui, megakui realitas yang terjadi. Sebut saja sebuah pengakuan.

Siapapun, harus mengakui. Hingga hari ini tidak kurang dari 568 hoaks atau kabar bohong terkait Covid-19 telah beredar. Covid-19 bukan dicegah atau disembuhkan. Tapi di-eksplor jadi bahan kebohongan. 1 dari 2 orang Indonesia pun kini punya akses terhadap internet. Tapi sayang, tradisi bacanya tidak lebih dari 1 jam sehari. Sementara berselancar di dunia maya bisa 5,5 jam sehari. PSBB akibat wabah virus corona Covid-19 pun sudah diterapkan. Tapi keramaian dan lalu-lalang masih ada di jalanan, di tempat nongkrong. Mudik sudah dilarang tapi pemudik terus mengalir. Hingga semua bingung, gimana kita seharusnya sebagai bangsa? Sungguh, semua itu harus diakui. Sebuah pengakuan yang harus diakui.

Sebuah pengakuan lagi.
Hari ini #DiRumahAja tapi hati galau, pikiran bete. Persis seperti orang yang puyeng tapi berlagak tenang. Iya, seperti orang gak punya duit tapi bergaya selangit. Seperti kaum jomblo yang sibuk ingin berduaan. Seperti orang serius kuliah tapi pas ditanya tidak tahu apa-apa. Orang-orang yang merasa peduli. Tapi tidak berbuat apa-apa, tidak pernah terjun ke lapangan untuk peduli. Ibarat “orang yag memegang buku tapi tidak pernah dibacanya”. Realitas itu harus diakui, sebuah pengakuan.

Sebuah pengakuan. Entah, kenapa sulit sih untuk mengakui kekurangan dalam diri? Kenapa harus sulit meminta maaf bila terjadi kesalahan? Dan kenapa pula harus membenci pada orang yang tidak seharusnya dibenci? Tanya kenapa? Itu sebuah pengakuan.

Suatu kali. Ada orang-orang pintar ngobrol di kedai kopi. Orang-orang hebat ngobrol bareng. Lalu, mereka bilang gini “Kenapa ya, bangsa Indonesia yang kaya raya gini kok penduduknya masih banyak yang miskin?”

Buat saya, itu obrolan orang keder. Karena mereka yang ngobrol, lalu mereka yang tanya pula. Tapi anehnya, tidak ada yang bisa menjawab. Padahal jawabannya sederhana. Karena mereka tidak mau mengakui bahwa mereka itu tidak bisa ngapa-ngapain. Mereka yang banyak bicara tapi sangat sedikit berbuat.

Maka mumpung mau puasa. Harus diakui, momen pengakua telah tiba.
Bahwa orang kalah itu bukan berarti salah. Orang tidak sepaham itu bukan berarti benci. Tidak akrab itu bukan musuh. Lagi pula, urusan surge atau neraka itu atas kehendak Allah SWT. Bukan karena pikiran atau sangkaan manusia. Entah, kenapa sulit mengakui?

PENGAKUAN itu penting.
Seperti adanya Hari Buku Sedunia, 23 April ini. Hari yang ditetapkan untuk mengakui bahwa membaca itu penting. Budaya literasi harusnya jadi bagian hidup setiap anak manusia. Pentingnya buku-buku yang bukan hanya dipajang atau ditumpuk. Tapi dibaca dan diterapkan ilmunya. Sebuah pengakuan terhadap tradisi baca dan budaya literasi. Agar jangan ada lagi hoaks, jangan ada ujaran kebencian. Dan jangan ada hujatan tanpa ada perbuatan baik. Bak tubuh tanpa jiwa, itu persis Seperti ruangan tanpa buku; hidup tanpa baca.

Sebuah pengakuan. Untuk introspeksi diri, muhasabah diri.
Bahwa kita tidak lebih baik dari orang lain yang disangkakan. Bahwa tidak sama itu bukan berarti tidak boleh beda. Bahwa hidup itu atas apa yang kita perbuat bukan atas yang kita omongkan. Untuk apa berbanyak-banyak dalam keburukan. Lebih baik sendiri dalam kebaikan. Itulah sebuah pengakuan.

Di bulan puasa tahun ini, saat wabah virus corona Covid-19 merebak.
Harus diakui, banyak hal yang harus terus diperbaiki. Sebagai diri, sebagai lingkungan maupun sebagai bangsa. Untuk berpikir lebih positif dan berbuat baik. Bukan berpikiri negatif dan tidak ada yang diperbuat. Ubah niat baik jadi aksi nyata. Walau hanya membaca buku #DiRumahAja.

Sebuah pengakuan, itulah catatan penting Hari Buku Sedunia.
Untuk tetap membangun tradisi baca dan budaya literasi. Untuk selalu membersihkan hati, meningkatkan iman. Karena tidak ada iman yang baik tanpa hati yang bersih. Bahwa baik dan buruk manusia itu bukan dilihat dari penampilan atau omongan. Tetapi dilihat dari hatinya.

Jadi kerjakan saja yang seharusnya dikerjakan.
Sungguh, pengakuan itu lebih terhormat daripada mencari pembenaran. Karena pengakuan itu bukan mencari kesalahan orang lain. Tapi mengakui kesalahan diri sendiri. Bahwa kita mengakui diri kita apa adanya, bukan berjuang menjadi seperti yang ingin diakui orang lain… tabik #HariBukuSedunia #BudayaLiterasi #BulanPuasa


Leave a Reply

Your email address will not be published.