October 27, 2020

Di Era New Normal, Pengusaha dan Pekerja Perlu Siapkan Program Pensiun

Dampak pandemic Covid-19 sangat terasa di sektor tenaga kerja. (Foto : Pixabay)


Bisnispost.com, Jakarta – Pukulan telak dihadapi sektor tenaga kerja. Saat wabah Covid-19 merebak. Dari Maret 2020 hingga kini dan belum kunjung usai. Akibatnya pekerja yang di-PHK sudah mencapai 3,05 juta per 2 Juni 2020. Bahkan diperkirakan tambahan pengangguran bisa mencapai 5,23 juta. Angka itu pun belum termasuk pekerja yang dirumahkan.

Terjadinya PHK (pemutusan hubungan kerja) dan pekerja dirumahkan, otomatis menjadi sebab pendapatan menurun. Lebih dari itu, sebagian besar sektor usaha utamanya UMKM terganggu kegiatan usahanya. Kegiatan ekonomi terpaksa dimulai dari awal, dari titik nol di era new normal. Sebuah era kehidupan baru yang tidak sama lagi dengan era normal pada masa sebelumnya. Dampak pandemic Covid-19 sangat terasa di sector tenaga kerja. Baik dari sisi pekerja, pengusaha, usaha mandiri maupun sektor informal.

Era new normal, berarti setiap aktivitas harus menerepkan protokol Kesehatan. Maka sektor tenaga kerja pun siap untuk menuju era new normal. Harus belajar beradaptasi dengan aturan baru di fase new normal nanti. Siap mengubah pikiran dan perilaku dalam bekerja. Semata-mata bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup semata. Tapi harus berani pula untuk menyisihkan sebagian dana untuk masa pensiun atau persiapan pesangon. Gaji yang tidak dihabiskan untuk sebulan. Tapi harus berani menabung untuk masa pensiun. Untuk apa? Untuk antisipasi terhadap kondisi darurat dalam pekerjaan. Seperti terjadinya PHK. Agar pekerja maupun pengusaha tetap memiliki “cadangan dana” yang bisa dicairkan sesuai aturan yang berlaku.

Oleh karena itu, era new normal pun harusnya mampu mengubah pikiran akan pentingnya mempersiapkan dana untuk masa pensiun. Termasuk mempersiapkan cadangan dana pesangon bila “terpaksa” harus terjadi PHK atau merumahkan pekerja. Era new normal bukan hanya untuk aktivitas pekerjaan kembali berjalan. Tanpa pikiran dan perilaku yang berubah untuk mempersiapkan masa pensiun atau menyiapkan pesangon pekerja. Di era new normal, gaya hidup harus berubah. Cara mengatur keuangan pun berubah. Perilaku memperlakukan uang pun harus berubah. Uang yang bukan untuk masa kini. Tapi untuk masa yang akan dating. Agar bila terpaksa pensiun atau pesangon, baik pengusaha maupun pekerja sudah siap.

Maka era new normal pun jadi momen untuk edukasi dan sosialisasi akan pentingnya program pensiun dan program pesangon pekerja. Sebagai sebuah tatanan hidup baru untuk merancang masa “tidak bekerja” yang lebih siap dan lebih berdaya. Karena kita tidak tahu sampai kapan wbah Covid-19 berlangsung. Atau tidak ada jaminan pula bila di masa datang, apakah ada gelombang kedua Covid-19 atau wabah yang lainnya. Intinya, Covid-19 memberi pelajaran berharga. Agar semua pihak harus lebih siap dalam hal apapun.

Nah, upaya merancang kembali strategi untuk mempersiapkan masa pensiun atau pesangon pun bisa dilakukan di era new normal. Agar tetap siap untuk pensiun atau berdaya ketika di-PHK. Berikut 5 cara untuk menyiapkan masa pensiun dan pesangon di era new normal :

  1. Kurangi gaya hidup. Jangan ada lagi di era new normal gaya hidup yang berlebihan atau perilaku konsumtif yang kebablasan. Apalagi yang bergaji masih pas-pasan, berjuanglah untuk menyisihkan sebagian dana untuk hari tua untuk masa tidak belerja lagi. Kurangi kulineran, kurangi nongrkong di kafe-kafe, kurang pula perilaku konsumtif yang tidak perlu.
  2. Batasi Pos Pengeluaran. Di era new normal, batasi pos pengeluaran. Apalagi yang tidak perlu. Jaga rasio pendapatan dan pengeluaran. Smabil berjuang untuk menyisihkan Sebagian dana untuk masa pensiun. Ubah pengeluaran yang tidak perlu menjadi program pensiun. Wabah Covid-19 ini memberi pelajaran akan pentingnya “vitamin keuangan” di masa sulit. Dan itu harus dipersiapkan dengan membatasi pos pengeluaran beralih ke pos tabungan untuk hari tua.
  3. Berani Menabung. Di era new normal, jangan sampai tiba masa pensiun atau terpaksa di-PHK tanpa punya tabungan sepeserpun. Utamanya pekerja harus berani menabung untuk masa pensiun. Menyisihkan sebagian gaji secara rutin untuk masa tidak bekerja lagi. Tabungan untuk masa pensiun, bukan tabungan yang bisa diambil kapan saja dan dimanapun. Kebiasaan baru yang harus dilakukan di era new normal adalah “berani menabung untuk hari tua”.
  4. Hindari utang. Siapapun di era new normal, harus berani menghindari utang. Pinjam uang dari pihak lain hindari. Apalagi utang untuk konsumtif atau hal yang tidak produktif. Utang itu hanya menambah beban ekonomi siapapun. Dan menjadikan kondisi ekonomi tidak stabil. Di era new normal, kondisi keuangan yang stabil harus jadi prioritas siapapun. Berjuanglah untuk tidak utang. Lebih baik menabung daripada berutang.
  5. Ikuti Program Pensiun. Di era new normal, siapapun pengusaha atau pekerja harus berpikir ulang akan pentingnya program pensiun. Sebagai persiapan untuk masa tidak bekerja lagi. Entah akibat pensiun maupun PHK. Untuk apa punya gaji bila tidak disisihkan untuk masa pensiun. Bersiap kemungkinan terburuk dari pekerjaan itu penting. Dan salah satu solusinya dengan mengikuti program pensiun seperti DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) yang da di pasaran.

Era new normal di tengah pandemi Covid-19 bukanlah era normal biasa. Harus ada kebiasaan dan perilaku baru yang diterapkan. Bukan hanya untuk kesehatan. Tapi juga cara kita mempersiapkan masa pensiun dan saat terpaksa di-PHK. Era new normal semestinya jadi momentum untuk “menata sistem keuangan yang sehat untuk masa tidak bekerja lagi”.

Era new normal bukan hanya untuk kesehatan. Tapi cara dalam mempersiapkan kondisi keuangan di masa depan pun harus tetap diperhatikan. Terus terang, mengatur keuangan untuk masa pensiun tidaklah mudah. Butuh komitmen dan keberanian. Agar kondisi keuangan lebih kokoh dan masa pensiun lebih berdaya. Jangan sampai berjaya di masa bekerja tapi merana di masa pensiun.

Salah satu caranya, dengan mengikuti program pensiun DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) yang ada di pasaran. Karena program pensiun DPLK bisa jadi “kendaraan” kita menuju masa pensiun yang lebih berdaya. Termasuk mempersiapkan program pesangon untuk pekerja bila terpaksa terjadi PHK.

Jangan lagi remehkan masa pensiun. Karena kita dan semua orang, pasti ingin “menikmati” masa pensiun, bukan “meratapi” masa pensiun. Maka di era new normal, beranilah untuk mempersiapkan masa pensiun. (Oleh : Syarifudin Yunus, Direktur Eksekutif Asosiasi DPLK)