Businesstoday.id, Jakarta – Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengundang investor dan kalangan ekonomi dunia untuk ikut bekerja sama mengembangkan pendanaan karbon dalam rangkaian World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

Dalam forum Tri Hita Karana yang jadi bagian WEF di Davos, Swiss, Selasa (21/1/2020), Luhut menyebut Indonesia adalah Keajaiban Modal Alam Dunia karena potensi alamnya.

“Kekayaan alam modal alam Indonesia ini sangat bernilai untuk karbon kredit, hilangnya karbon tidak dapat dipulihkan, sekali hilang mereka tidak dapat dipulihkan dalam skala waktu yang berarti bagi krisis iklim saat ini,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Luhut mengungkapkan Indonesia merupakan rumah bagi salah satu hutan hujan terakhir yang tersisa, dengan potensi hutan hujan tropis terbesar ketiga, dan sekitar 200 ton karbon yang tidak dapat dipulihkan per hektare, lebih besar dibandingkan dengan Hutan Amazon dengan potensi 100 ton karbon per hektare.

“60 juta orang juga bergantung langsung pada ekosistem alami ini. Oleh karenanya kita harus menemukan cara untuk menyediakan mata pencaharian, sementara kita menghargai dan melestarikan jasa ekosistem hutan dan laut,” tambahnya.

Forum Tri Hita Karana yang diketuai Cherry Salim, mengeksplorasi instrumen keuangan campuran, baik hijau maupun biru, yang dapat digunakan untuk menghasilkan pembiayaan pembangunan yang melestarikan sumber daya alam sekaligus menciptakan lapangan kerja atau pendapatan lokal.

“Kami mengundang anda untuk bekerja bersama kami untuk mengembangkan mekanisme pendanaan karbon yang kuat untuk melindungi habitat berharga yang tak tergantikan ini. Presiden RI Joko Widodo juga telah mengumumkan moratorium pembukaan hutan hujan primer yang telah menyebabkan pengurangan signifikan dalam deforestasi,” imbuh Luhut.

Purnawirawan Jenderal TNI itu menuturkan berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia, di antaranya dengan melakukan berbagai inovasi, seperti misalnya penerbitan obligasi penggunaan lahan berkelanjutan pertama di dunia pada tahun 2018, dengan nilai cukup fantastis yaitu 95 juta dolar AS

Luhut juga memaparkan komitmen Indonesia untuk mengurangi 29 persen emisi gas rumah kaca pada 2030 melalui pengelolaan lahan dan kehutanan, pengembangan dan konservasi energi, dan pengelolaan limbah.

“Panas bumi, gelombang lautan, limbah dan sumber terbarukan lainnya menawarkan potensi besar untuk mengurangi sumber energi tradisional dalam Inisiatif Pembangunan Rendah Karbon yang selaras dengan anggaran nasional dan regional. Pemerintah bermaksud untuk mencari kemitraan dengan sektor swasta untuk mewujudkan transisi menuju pertumbuhan inklusif yang berkelanjutan secara sosial dan lingkungan,” kata Luhut. (aij)