October 29, 2020

Diaspora Indonesia di AS Ciptakan Rapid Test Seharga Rp 160.000

Alat pengetesan Covid-19 itu ditawarkan dengan harga yang terjangkau, sekitar Rp 160.000 per unit. (Foto : Instagram @rapid_test.co)


Businesstoday.id, Jakarta – Seorang entrepreneur dari Indonesia, Santo Purnama, berhasil mengembangkan alat tes mandiri untuk virus corona atau Covid-19 hanya dalam waktu 4 bulan. Alat ini, memungkinkan setiap orang untuk melakukan pengetesan di rumah masing-masing, hanya dalam waktu 10 menit.

Alat pengetesan Covid-19 itu ditawarkan dengan harga yang terjangkau, sekitar Rp 160.000 per unit. Santo mengembangkan teknologi pengetesan Covid-19 melalui perusahaannya, Sensing Self, yang berbasis di Singapura.

Resmi diproduksi sejak bulan Februari, alat rapid test Sensing Self telah mendapatkan lisensi edar dari tiga pasar penting di dunia, yaitu Eropa (mendapatkan sertifikasi CE), India (disetujui oleh National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research), serta Amerika Serikat (AS).

Untuk pasar AS, Food and Drug Administration (FDA) telah memberikan persetujuan bagi alat tes Sensing Self, dengan syarat bahwa penggunaannya harus dilakukan di lembaga medis formal. India, yang mencatatkan angka ribuan kasus positif Covid-19, telah memesan alat tes cepat Sensing Self sejumlah 3 juta unit.

Sebagai warga negara Indonesia (WNI), Santo mengaku siap membawa alat tes mandiri ini untuk membantu pemerintah Indonesia menanggulangi wabah Covid-19. Namun, dirinya belum mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang.

“Perang melawan Covid-19 adalah perang melawan waktu. Kita harus menekan laju pertumbuhan pandemi ini dengan melakukan tes seluas mungkin. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan respon positif bagi inisiatif kami untuk membawa alat tes mandiri ini ke Indonesia. Jika setiap orang bisa melakukan tes mandiri, kita bisa meminimalisir risiko infeksi ketika pasien datang ke rumah sakit untuk melakukan tes, serta mengurangi beban tenaga medis yang sudah amat kewalahan,” kata Santo dalam keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, Rabu (1/4/2020).

Menurut Santo, sudah empat minggu lebih pemerintah Indonesia belum memberikan keputusan persetujuan terhadap alat tes mandiri ini. Sebagai perbandingan, badan farmasi Eropa hanya membutuhkan waktu 2 minggu hingga 3 minggu untuk memberikan persetujuan. India menghabiskan waktu satu minggu untuk melakukan uji coba, validasi, dan persetujuan akhir. Pemerintah India langsung memesan jutaan unit alat tes dua hari setelah lisensi diterbitkan. (ber)


Leave a Reply

Your email address will not be published.