Ekosistem Bisnis Internasional, Forum AIS Luncurkan Blue Startup

Plt. Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim dan Kawasan Perbatasan, Sora Lokita. (Foto : enb.iisd.org)


Bisnispost.com, Jakarta – Forum Negara Kepulauan dan Pulau atau Archipelagic and Island States Forum atau (AIS) pada hari Selasa (30-06-2020) melakukan soft launching AIS Blue Startup Hub, sebuah platform yang mengeksplorasi pengembangan peluang dengan memfasilitasi berbagi pengetahuan antara para pebisnis pemula dari negara-negara anggota forum dengan para mentor atau investor yang diharapkan bisa menghasilkan manfaat pada skala lokal, regional, dan internasional.  Sebuah platform yang disediakan bagi mereka yang ingin menjalin koneksi baru dan mendapat inspirasi untuk menyelesaikan tantangan dengan solusi yang inovatif.

Blue Startup adalah platform di mana penduduk pulau dapat bertemu untuk membangun pemahaman dan kesamaan untuk membahas cara cerdas dan efektif untuk meningkatkan mata pencaharian masyarakat pesisir. Dengan membuat komitmen dan bekerja bersama dalam aksi nyata, Forum AIS negara yang berpartisipasi dapat mulai mengatasi tantangan bersama secara berkelanjutan pembangunan,” kata Sora Lokita, Plt. Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim dan Kawasan Perbatasan, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi dalam sambutan pembukaannya pada event Webinar AIS Talkshow pada Selasa.

Sedangkan Jason Herbert, Manajer Pengembangan Bisnis di Mint Innovation, Selandia Baru dalam sambutan pembukanya menekankan kreativitas saja tidak cukup untuk membangun kewirausahaan.

“Tidak semua orang kreatif mampu menjadi seorang wirausaha, seorang wirausaha adalah orang kreatif yang terus berusaha untuk dapat membuktikan ide-idenya, lalu merealisasikannya. Kewirausahaan adalah faktor pendorong utama sebuah  inovasi,” ujarnya.

Herbert menyatakan dukungan penuhnya akan platform ini dan mengatakan AIS punya peran mempertemukan startup dan mentor/investor.

Platform ini memberi kesempatan anggotanya untuk berdiskusi, mengungkapkan, dan berpendapat forum melalui diskusi, blog, dan pengiriman. Ekosistem startup yang kondusif akan memungkinkan kewirausahaan untuk memiliki pertukaran pengetahuan, peluang jaringan, hosting program bersama, dan platform pengembangan kapasitas. Biasa disebut Startup Bridge, yang memungkinkan startup, investor, inkubator, akselerator dan calon pengusaha dari negara-negara peserta AIS untuk terhubung satu sama lain dengan menyediakan sumber daya untuk berkembang dan menjadi startup global.

Alvin Evander, Head of Synergy and Accelerator at MDI Ventures yang menjadi salah satu pembicara menyampaikan satu contoh bisnis model yang bisa diterapkan oleh para pebisnis pemula.

“Saat Anda memaparkan ide bisnis kepada investor, jangan terlalu berbelit-belit, tidak perlu menggunakan bahasa yang sulit dimengerti, yang menjadi faktor penentu lain adalah keteguhan pada ide awal,” ujarnya memberikan tips kepada peserta Webinar yang berjumlah lebih dari 200 orang.

Alistair Douglas, pendiri Eachmile Technologies, sebuah perusahaan teknologi seluler yang mengubah rantai pasokan makanan laut global dari panen menjadi konsumsi, mengatakan membangun sebuah usaha terutama yang berbasis teknologi adalah sebuah perjalanan panjang, tidak bisa instan.

“Ini memang hasil dari perjalanan panjang, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Kami mengumpulkan data dari para nelayan di banyak negara dan membaginya, Kami juga menggunakan Facebook dan sekarang akun kami sudah diikuti oleh nelayan dari lebih dari 50 negara. Masih ada masalah yang kami hadapi saat ini, seperti misalnya, apa insentif yang didapat oleh nelayan yang telah berbagi data? saat ini masih belum bisa kami pecahkan,” jelasnya.

Pembicara lain, Mariko McTire, pendiri Mymizu yang berpusat di Jepang, mengatakan misinya dalam membangun startup Mymizu adalah untuk mengubah pola pikir masyarakat sehingga dibutuhkan kreativitas untuk mendapatkan pemasukan.

“Kami ingin membangun app yang gratis untuk publik untuk mengubah kebiasaan mereka, sekarang yang kami butuhkan sekarang adalah bagaimana mendapatkan pemasukan dari hal-hal di luar app di mana orang akan sukarela membayar untuk itu,” ujarnya.

Kreativitas, juga dibutuhkan dalam situasi krisis pandemi saat ini.

“Kita harus memperkuat kerja sama, saat Pandemi COVID-19 seperti ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada negara yang dapat menghadapi situasi krisis sendirian. Pandemi tersebut merupakan peluang untuk meningkatkan kehidupan masyarakat dan merangsang inovasi, seiring transisi global menuju ekonomi digital. Pandemi dan akibatnya memaksa organisasi di seluruh dunia menjadi lebih gesit dan mudah beradaptasi dalam menghadapi massa gangguan ekonomi,” ujar Sora Lukita. (mar)


WhatsApp chat