December 5, 2020

Ini 10 Emiten yang Layak Dilirik Investor Global Kategori ASEAN Asset Class

Bidang governance sejak tahun 1996 dan merupakan salah satu penyusun pedoman governance di Indonesia. (Foto : Pixabay)


Bisnispost.com, Jakarta – 10 Perusahaan Tercatat di Indonesia masuk dalam kategori ASEAN Asset Class (aset berkelas) yang dinilai memiliki tata kelola perusahaan yang baik dan layak dilirik kalangan investor global. Hasil penilaian Asean Corporate Governance Scorecard (ACGS) dari 100 Perusahaan Tercatat (Publicly Listed Companies / “PLCs”) dengan kapitalisasi pasar paling besar di tiap negara menunjukkan bahwa tingkat praktik tata kelola yang baik dan pengungkapan lebih dipengaruhi oleh sikap dari manajemen puncak dibanding ukuran Perusahaan Tercatat tersebut.

“ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) dibuat dalam rangka mendukung upaya untuk meningkatkan kepercayaan investor atas kualitas perusahaan di regional ASEAN. Hasil penilaian ’ASEAN Asset Class’ tahun 2019 yaitu untuk tahun buku yang berakhir pada tahun 2018, terdapat 10 (sepuluh) Perusahaan Tercatat Indonesia yang masuk dalam daftar ASEAN Asset Class, dengan nilai 97,5 keatas, dan terdapat peningkatan sebesar 25% jika dibandingkan pada tahun 2017 yaitu sebanyak 8 Perusahaan Tercatat” jelas Corporate Governance Expert (CG Expert) yang ditunjuk oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mewakili Indonesia di Forum ASEAN Corporate Governance tahun 2019, Angela Simatupang dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (09/06), yang merupakan CG Expert Indonesia sejak tahun 2016.

Angela menambahkan untuk peringkat ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) Indonesia yang dinilai dua tahunan secara rata-rata menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 0,3%, dari 70,59 pada tahun 2017 menjadi 70,8 pada tahun 2019. Skor tertinggi meningkat sebesar 3,9%, dari 109,61 menjadi 113,84.

Namun, skor terendah menurun sebesar 8,12%, dari 40,9 menjadi 37,58. Ia menjelaskan tujuan dari ASEAN Corporate Governance Initiative yang diperkenalkan oleh ASEAN Capital Markets Forum (ACMF) antara lain meningkatkan standar dan praktik tata kelola perusahaan terbuka di ASEAN, memberikan visibilitas internasional yang lebih baik mengenai perusahaan terbuka di ASEAN yang memiliki tata kelola yang baik dan layak untuk menjadi target investasi, mendukung inisiatif ACMF lainnya,serta mempromosikan perusahaan di ASEAN sebagai aset yang berkelas (asset class). ACMF adalah forum regulator pasar modal di negara ASEAN.

Terdapat 3 (tiga) Perusahaan Tercatat yang mendapat skor ACGS tertinggi (Top 3 Indonesia PLCs) yaitu PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Sementara Perusahaan Tercatat yang masuk dalam kategori ASEAN Asset Class lainnya adalah PT Antam Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Maybank Indonesia Tbk.

Dibandingkan penilaian ACGS pada tahun 2017, pada penilaian ACGS tahun 2019 ini terdapat 3 (tiga) Perusahaan Tercatat yang menunjukkan usaha luar biasa dan mengalami peningkatan skor yang signifikan dalam penerapan dan pengungkapan praktik governancenya. Adapun 3 (tiga) Perusahaan Tercatat di luar kategori ASEAN Asset Class yang berhasil meningkatkan skornya secara signifikan tersebut yaitu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk naik 20,73% dengan skor 74,04, PT Vale Indonesia Tbk naik 20,68% dengan skor 83,36 dan PT Adaro Energy Tbk naik 19,06% dengan skor 65,03.

“Hasil penilaian menunjukkan bahwa tingkat praktik tata kelola yang baik dan pengungkapan sangat dipengaruhi oleh sikap dari manajemen puncak perusahaan daripada ukuran perusahaan. Selain itu, ketersediaan peraturan yang lebih ketat juga berperan signifikan dalam penerapan praktik tata kelola yang baik, seperti ditunjukkan oleh pencapaian lebih tinggi skor yang dibukukan Perusahaan Tercatat perbankan,” jelas Angela.

Angela telah mendalami bidang governance sejak tahun 1996 dan merupakan salah satu penyusun pedoman governance di Indonesia. Selain itu, Angela juga anggota dari International Internal Audit Standards Board (IIASB) di Institute of Internal Auditor Global dan salah satu Global Board of Directors RSM International yang berkantor di London. Bersama dengan Corporate Governance Experts dan Domestic Ranking Body dari negara-negara ASEAN lainnya, Angela melakukan review dan penilaian terhadap skor ASEAN Corporate Governance 100 Perusahaan Tercatat berkapitalisasi besar dari masing-masing negara.

“Hasil penilaian ASEAN Corporate Governance Scorecard tahun 2019 juga menunjukkan terdapat 7 (tujuh) Perusahaan Tercatat yang berhasil memperoleh skor di atas 100 dibandingkan tahun 2017 yang hanya 3 (tiga) Perusahaan Tercatat” jelas Angela. Dia memaparkan, penilaian corporate governance terhadap 100 Perusahaan Tercatat dengan kapitalisasi pasar terbesar tersebut sudah mewakili 84,3% dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia per 31 Maret 2019 dan 15,9% dari jumlah Perusahaan Tercatat di Indonesia.

10 (sepuluh) Perusahaan Tercatat Indonesia yang masuk dalam kategori ASEAN Asset Class Peringkat Perusahaan Tercatat Nilai Sektor Industri Keterangan

1 PT Bank CIMB Niaga Tbk. 113,84 Financials Non-BUMN/D
2 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. 110,29 Financials BUMN/D
3 PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. 110,22 Financials BUMN/D
4 PT Aneka Tambang Tbk. 109,04 Materials Non BUMN/D
5 PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. 107,33 Financials BUMN/D
6 PT Bank Central Asia Tbk. 101,93 Financials Non-BUMN/D
7 PT Bank Permata Tbk. 100,16 Financials Non-BUMN/D
8 PT Jasa Marga (Persero) Tbk. 99,61 Utilities BUMN/D
9 PT XL Axiata Tbk. 99,59 Telecommunications Non-BUMN/D
10 PT Bank Maybank Indonesia Tbk. 98,36 Financials Non-BUMN/D
Sumber: CG Expert Indonesia, Tahun 2020

Masing-masing negara ASEAN menunjuk Domestic Ranking Bodies (DRB) dan CG Expert untuk melakukan assessment terhadap perusahaan di ASEAN berdasarkan kriteria ACGS. Lima aspek penilaian yang dimasukkan dalam scorecard adalah hak pemegang saham, perlakuan yang adil terhadap pemegang saham, peran pemangku kepentingan, pengungkapan dan transparansi, dan terakhir tanggung jawab dewan komisaris dan direksi. Dalam hal ini DRB yang mewakili Indonesia adalah RSM Indonesia.

Untuk penilaian tahun 2019, dari 600 Perusahaan Tercatat di ASEAN yang dinilai, sebanyak 210 Perusahaan Tercatat di ASEAN dinilai ulang dengan peer review oleh DRB negara lain untuk memastikan interprestasi penilaian oleh DRB telah dilakukan secara konsisten.

Setelah proses peer review selesai dilakukan, dilanjutkan dengan diskusi untuk merekonsiliasi perbedaan nilai dan menyetujui skor akhir untuk Perusahaan Tercatat tersebut. Jika terdapat permasalahan yang belum terselesaikan, permasalahan tersebut akan dieskalasi kepada para CG Experts untuk keputusannya.

Apabila dalam diskusi terungkap adanya perbedaan secara sistemik antara penilaian DRB dengan penilaian peer review yang diakibatkan oleh interprestasi, maka dilakukan penilaian ulang terhadap seluruh Perusahaan Tercatat, termasuk Perusahaan Tercatat yang tidak dilakukan peer review. Proses pemeriksaan ini dimaksudkan untuk meningkatkan akurasi hasil penilaian.

Lebih lanjut Angela Simatupang memaparkan peringkat Perusahaan Tercatat se-ASEAN rencananya akan diumumkan oleh ASEAN Capital Market Forum (ACMF) bersama dengan Asian Development Bank (ADB) di Vietnam, namun dikarenakan adanya pandemi Covid-19 jadwal pengumuman peringkat Perusahaan Tercatat se-ASEAN akan diinformasikan kembali.

Sedangkan pada sisi aspek perbaikan perusahaan tercatat , Angela Simatupang menuturkan, tiga aspek perbaikan yang umum ditemui di Perusahaan Tercatat Indonesia yang dinilai tahun ini adalah ketepatan waktu publikasi laporan tahunan yang tidak melebihi 120 hari setelah tahun buku berakhir, adanya pernyataan kepatuhan terhadap ketentuan tata kelola dalam laporan tahunan, serta adanya pengungkapan terhadap pelaksanaan hasil review dan pemantauan implementasi strategi perusahaan oleh manajemen.

“Dari 100 Perusahaan Tercatat Indonesia dengan kapitalisasi terbesar yang dinilai, skor ACGS tahun 2019 terendah ada di 37,58 dan nilai rata-rata negara ada di 70,80; sementara nilai tertinggi di penilaian ACGS tahun 2019 adalah 113,84. Tingkat pengungkapan tata kelola Perusahaan Tercatat di Indonesia tidak terjadi secara merata di antara seluruh 100 Perusahaan Tercatat yang dinilai dan hasil penilaian tidak menunjukkan adanya korelasi antara nilai kapitalisasi pasar terhadap skor. Kapitalisasi pasar yang besar tidak selaras dengan nilai yang lebih tinggi dalam penilaian pengungkapan. Dari sisi sektor industri, sektor keuangan (perbankan) memiliki nilai rata-rata tertinggi sedangkan sektor consumer goods dan property memiliki nilai rata-rata yang cukup rendah di bawah 65,” jelas Angela.

Pada tahun 2019, bersama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan ADB, RSM telah mengadakan berbagai sosialisasi mengenai praktik tata kelola dan pengungkapan yang diharapkan bagi Perusahaan Tercatat di Indonesia. Dan untuk mendukung peningkatan skor ACGS Perusahaan Tercatat Indonesia pada tahun mendatang, RSM bekerja sama dan didukung oleh OJK, BEI, dan ADB telah merencanakan untuk mengadakan rangkaian sosialisasi mengenai praktik tata kelola dan pengungkapan yang baik bagi Perusahaan Tercatat di Indonesia.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan, “BEI sangat mendukung pelaksanaan ASEAN Corporate Governance Scorecard ini, serta rangkaian rencana kerja sama yang akan dilaksanakan bersama dengan OJK, RSM, dan ADB kepada Perusahaan Tercatat kedepannya, di antaranya dalam bentuk capacity building dan recognition. Hal ini dilakukan agar dapat mengoptimalkan kinerja Perusahaan Tercatat di Indonesia, sehingga skalanya meningkat setara dengan kualitas PLCs di ASEAN dan ke depannya di kancah internasional. Selain itu, penerapan Good Corporate Governance disertai pengungkapan informasi yang baik, dapat memberikan investor informasi yang komprehensif dari Perusahaan Tercatat, yang diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor lokal dan global untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia”. (mit)