October 22, 2020

Janji Dirut Pertamina soal Obral Diskon BBM Menyesatkan Publik

Dirut Pertamina Nicke Widyawati bersama Komut Ahok, Menteri BUMN Erick Thohir dan Presiden Jokowi. (Foto : Instagram)


Bisnispost.com, Jakarta – Dari fakta yang terjadi di sejumlah SPBU seluruh tanah air sejak kemaren 1 Mei, saya banyak mendapat telpon dan whatsapps dari banyak konsumen dari bebagai daerah merasa tertipu atas keterangan Dirut Pertamina di berbagai media cetak, online dan elektronik.

Seperti diketahui, Dirut Pertamina pada 30 April 2020 menyatakan bahwa konsumen bisa membeli sebanyak banyaknya BBM Pertamax dan Dex Series untuk bisa menikmati diskon 30% dari harga resmi di SPBU Pertamina diseluruh tanah air.

Ternyata discount itu sehari cuma maksimal Rp. 40 juta dikeluarkan Pertamina, yaitu per orang maks Rp 20.000 dari berapapun dia beli BBM dan hanya berlaku 2.000 konsumen pertama.

Apa artinya Rp 40 juta dibanding milyard-an rupiah yang diambil dari rakyat tiap hari karena kemahalan harga BBM yang dilakukan Pertamina dan badan usaha lainnya yang telah melanggar peraturan Pemerintah.

Padahal sejak 1 April 2020 kalau mengacu kepada Kepmen ESDM nmr 62 K/12/MEN/2020 oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif, menurut perhitungan saya bahwa tak kurang Pertamina menikmati sekitar Rp 200 milar perhari sejak 1 April dan Rp 300 miliar perhari sejak 1 Mei 2020, mengapa?

Karena harga beli minyak terjadi perubahan drastis dengan basis hitungan Kepmen ESDM itu, meskipun katanya Dirut Pertamina bahwa konsumsi BBM Pertamina turun sekitar 25%, akan tapi masih disekitar 100.000 KL perhari dari konsumsi normal disekitar 135.000 KL perhari di seluruh Indonesia.

Sehingga janji Dirut Pertamina itu tentu sangat tidak pantas diucapkannya disaat seluruh rakyat kita lagi paranoid Covid 19 dan banyak lagi susah karena tidak beraktifitas berusaha dan ternyata banyak juga kena PHK.

Dia enak sebagai Dirut bisa menikmati gaji miliaran dan fasilitas direksi serta mendapat tantiem, tentu menyedihkan kalau dilihat dari perspektif kemanusian, bisa dikatakan tak bermoral. (Yusri Usman, Direktur Eksekutif CERI – Center of Energy and Resources Indonesia)