November 25, 2020

Koalisi Pengawal Reformasi Mengecam Aksi Teror Akademik di Jogjakarta

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta Prof Ni'matul Huda. (Foto : Instagram @ilham_isdiyanto)


Bisnispost.com, Jakarta – Koalisi Pengawal Reformasi (Koper) mengutuk aksi teror akademik di Jogjakarta dan mendesak pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas dan melakukan tindakan hukum.

“Aksi tersebut membahayakan kedewasaan dalam berbangsa dan bernegara,” kata Ketua Koper, Kiai Abdul Jalil Hawary, melalui siaran persnya, Sabtu (30/5/2020).

Sekjend Kopers, In’am eL Mustofa menyebutkan bahwa teror ini memang berlebihan karena belum ada pemaparan secara ilmiah, bahkan diskusi pun belum berlangsung.

“Padahal kebebasan akademik ini sangat jauh dari tindakan makar, sebagaimana termaktub dalam pasal 7a dan 7b UUD NKRI 1945,” kata Mustofa.

Pihaknya jugs mendesak agar aparat penegak hukum segera bertindak, usut tuntas para peneror mimbar kebebasan akademik, selidiki segera secara seksama untuk akhirnya berikan tindakan hukum.

Dukungan moral dari berbagai kampus perguruan tinggi dan ormas mengalir kepada Prof. Dr Ni’matul Huda, namun sampai saat ini senat UGM yang diteror terkait kegiatan ini.

Prof. Ni’matul Huda, Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) adalah salah satu pembicara dalam mimbar akademik yang gagal digelar oleh para aktivis Hukum Tata Negara UGM, yakni Constitutional Law Society (CLS).

Sehari sebelum pelaksanaan, pemateri, Prof. Ni’matul Huda,  mendapatkan teror dari orang yang misterius. Bahkan ada yg mendatangi rumahnya dengan ancaman agar mengurungkan menjadi narasumber dalam diskusi tersebut.

Semula diskusi on line yang akan digelar Jumat 29 Mei 2020 ini berjudul “Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan”, namun kemudian berubah menjadi,  “Meluruskan Persoalan Pemberhentian Presiden Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan”.

Banyak para netizen, dan khalayak yang sudah siap ikut/mendaftar serta masyarakat Jogja pada umumnya, kaget karena diskusi ini bukan diundur tetapi dibatalkan pelaksanaanya. (*/bud)