Bisnispost.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan ikut menanggapi ketegangan yang terjadi antara Iran dan Amerika Serikat yang  akan berdampak signifikan terhadap harga minyak dunia.”Ya kita lihat saja nanti. Ya pasti naik (harga minyak) enggak apa-apa, hidup kan pasti ada naik turun. Jangan kita terlalu hebohlah,” katanya di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Sebelumnya, Kementerian Keuangan akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia seiring dengan adanya peningkatan ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat.

“Terjadi peningkatan eskalasi tensi di Timur Tengah dan pengaruhnya cepat ke pergerakan harga minyak, tentu kita memperhatikan ini terus,” kata Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara di Jakarta, Selasa.

Suahasil menjelaskan pantauan harga minyak dunia ini penting karena harga minyak merupakan salah satu variabel penting dalam pengelolaan APBN yang mampu mempengaruhi penerimaan maupun belanja pemerintah.

Namun, menurut dia, pelaksanaan kinerja APBN tersebut tidak hanya memperhatikan satu asumsi makro saja, tetapi juga instrumen lainnya seperti nilai tukar dan lifting minyak.

“Pengaruhnya ke APBN tidak hanya harga minyak tapi juga nilai tukar dan lifting minyak. Ini yang akan kita update setiap bulan,” kata Suahasil.

Sementara itu, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai bahwa Indonesia harus bersiap mengantisipasi ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran karena dapat menambah beban laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut dia, konflik AS-Iran dapat menjadi perang terbuka di kawasan Timur Tengah yang akhirnya mendorong harga komoditas, terutama minyak dunia melonjak.

Harga minyak yang melonjak, lanjut dia, dapat menjadi tantangan di tengah usaha pemerintah untuk memperkecil defisit pada neraca perdagangan dan transaksi berjalan. (aij)