October 24, 2020

Memahami Tata Niaga Gas Bumi di Indonesia, Mana yang Lebih Murah?

Mantan Wakil Menteri ESDM RI Archandra Tahar. (Foro : Facebook Archandra Tahar)


Oleh : Archandra Tahar, mantan Wakil Menteri ESDM RI.

DALAM kesempatan ini kami ingin menjawab beberapa pertanyaan sahabat FB terkait tata niaga gas bumi di Indonesia.

Gas Bumi merupakan gas alam yg komponen utama nya berupa C1 (CH4/Metana). Ini berbeda dengan LPG untuk rumah tangga yang memiliki senyawa utama C3 dan C4 (Propana dan Butana). Umumnya gas bumi dimanfaatkan dalam fasa gas sedangkan LPG berupa cairan.

Produksi gas bumi di Indonesia dari tahum 2015-2017 rata-rata adalah 2,9 tcf/tahun. Sekitar 60% dari produksi ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sisanya diekspor dalam bentuk LNG dan gas pipa.

Konsumen di dalam negeri dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok pertama adalah konsumen gas bumi yang pemakaiannya kecil seperti komersial, transportasi, rumah tangga dan industri kecil. Pada umumnya konsumen ini tidak membeli langsung dari pemasok gas bumi melainkan dari Badan Usaha Niaga Gas Bumi seperti PGN.

Kelompok kedua konsumen yang membeli gas bumi dalam jumlah yang relatif besar. Pembeliannya dapat langsung dari Badan Usaha Hulu Migas seperti Pertamina atau Badan Usaha Niaga yang besar seperti PGN. Yang termasuk konsumen dalam kelompok ini diantaranya PLN, pabrik pupuk dan industri petrokimia.

Dari total produksi 2,9 tcf/tahun, PGN hanya menyalurkan sekitar 0,31 tcf/tahun atau 11%. Sisanya disalurkan langsung oleh Badan Usaha Hulu migas baik dalam bentuk gas pipa maupun lewat LNG.

Bagaimana dengan penentuan harga ke konsumen? Pada prinsipnya harga gas yang disalurkan melalui gas pipa, terdiri dari biaya gas di titik serah hulu, biaya transportasi/pengangkutan gas (dapat berupa pipa atau moda lain seperti LNG dan CNG), dan biaya niaga.

Harga gas di titik hulu ditetapkan oleh Menteri ESDM lewat usulan SKK Migas. Biaya transportasi gas melalui pipa (transmisi dan distribusi) ditetapkan oleh BPH Migas dengan mempertimbangkan aspek tekno ekonomi. Sedangkan biaya niaga ditetapkan maksimal 7% sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM.

Untuk yang disalurkan lewat LNG, harga yang diterima konsumen akan memasukkan biaya likuifaksi gas ke LNG (perubahan dari gas menjadi LNG), biaya transportasi dengan kapal laut dan biaya regasifikasi (perubahan LNG menjadi gas).

Mana yang lebih murah menyalurkan gas lewat pipa atau LNG? Hal ini tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti jarak, kondisi geografis, volume gas yang akan disalurkan serta kondisi “pasar” dari gas bumi tersebut.

Untuk jarak yang jauh misalnya dari Papua ke pulau Jawa, maka LNG lebih murah daripada membangun pipa. Tapi untuk jarak dekat seperti Sumatera Selatan ke Jawa Barat maka pipa bisa lebih efisien. Untuk itu diperlukan perhitungan dari sisi teknikal dan komersial dalam menentukan moda penyaluran dari gas bumi.

Seiring dengan kemajuan teknologi, transportasi LNG saat ini juga dapat dilakukan melalui moda trucking maupun modul iso tank berukuran kecil. Hal ini dapat digunakan untuk konsumen yang berjarak jauh dari sumber gas dan dari pipa gas, sehingga tidak efisien jika disambungkan melalui pipa. (Sumber : Facebook Archandra Tahar)