October 23, 2020

Mendag ke Pasar Kramat Jati, Harga Barang Kebutuhan Pokok Masih Stabil

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto. (Foto : Instagram @agusuparmanto)


Bisnispost.com, Jakarta – Memasuki bulan puasa Ramadan di masa sulit pandemi COVID-19, perkembangan harga barang kebutuhan pokok masyarakat menunjukkan perkembangan menggembirakan. Harga-harga komoditas pangan yang sangat dibutuhkan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah (stay at home) terpantau stabil rendah. Stabilitas harga ini membuat masyarakat dapat lebih tenang menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengecek secara langsung harga-harga komoditas pangan di Pasar Kramat Jati Jakarta, Rabu (29/4/2020). Pemantauan ke pasar strategis di Jakarta ini untuk mengetahui secara langsung dari pedagang pasar tentang perkembangan harga kebutuhanpokok masyarakat selama pandemi COVID-19. Kunjungan ini dilaksanakan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

“Harga-harga komoditas barang kebutuhan pokok sebagian besar menunjukkan stabilitas yang baik. Ini tentu menggembirakan masyarakat. Stok di pasar-pasar cukup terpenuhi dan aman sehingga masyarakat bisa tenang menjalankan puasa Ramadan,” kata Mendag Agus Suparmanto saat peninjauan di Pasar Kramat Jati pagi tadi.

Dalam kesempatan tersebut, Mendag Agus juga menyempatkan berbincang dengan sejumlah pedagang kelontong untuk mengetahui harga gula. Selain itu juga berdiskusi dengan pedagang daging ayam, daging sapi, telur dan sayuran, seperti bawang putih dan bawang merah.

Di Pasar Kramat Jati, harga kebutuhan barang pokok terpantau stabil rendah. Harga beras medium Rp9.600/kg, beras premium Rp12.000/kg, gula pasir merk Matahari Merah Rp12.500/kg dan gula pasir (Non-Penugasan) Rp18.000/kg. Harga tepung terigu Rp10.000/kg, tepung terigu curah Rp7.000/kg, minyak goreng curah Rp10.500/lt, minyak goreng kemasan Rp13.000/lt, daging sapi paha belakang Rp120.000/kg, daging ayam ras Rp35.000/kg, telur ayam ras Rp23.000/kg, cabe merah keriting Rp32.000/kg, cabe rawit merah Rp40.000/kg, cabe merah besar Rp40.000 kg, bawang merah Rp60.000/kg, bawang putih kating Rp40.000/kg, bawang putih Honan Rp35.000/kg, dan bawang bombay Rp30.000—40.000/kg.

Perkembangan Harga Nasional

Secara nasional, harga komoditas pangan yang stabil (turun/naik berkisar 0—5 persen), antaralain beras, minyak goreng, tepung terigu, kedelai, daging sapi, dan telur ayam ras. Harga bahan pokok yang turun di atas 5 persen, antara lain daging ayam ras, cabe merah keriting, cabe merah besar, cabe rawit merah dan bawang putih. Sedangkan harga komoditas yang naik di atas 5 persen dalam sepekan ini adalah bawang merah.

Berdasarkan informasi dari Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), harga bawang merah saat ini mengalami kenaikan akibat turunnya produksi di sentra produksi bawang merah di Brebes Jawa Tengah hingga 10 persen. Penurunan ini terjadi karena hasil tanam yang kurang bagus dan stok panen sebelumnya mengalami kerusakan. Di sisi lain, harga bibit bawang merah juga naik menjadi Rp40.000-45.000/kg dari biasanya Rp20.000/kg (naik hingga 125 persen).

Hal ini berpengaruh terhadap penurunan luas tanam sekitar 20—30 persen karena yang bisa tanam hanya petani bermodal besar. Setelah bekoordinasi dengan Kementeian Pertanian, diketahui kenaikan harga bibit dan serangan hama (OPT) cenderung lebih tinggi pada musim hujan yang tentunya berimbas juga pada harga di tingkat konsumen.

“Dari sisi distribusi ke Jakarta saat ini juga diinfokan ada penurunan. Pengiriman bawang merah dari Brebes ke Jakarta saat ini sebanyak 25 truk/hari berkurang 16 persen dari sebelumnya 30 truk/hari. Hal ini tergambar dari penurunan pasokan bawang merah ke Pasar Induk Kramat Jati menjadi sekitar 79 ton/hari dalam seminggu terakhir, di bawah pasokan normal 98 ton/hari.

Harga bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati saat ini Rp42.000/kg, tertinggi di Manokwari Rp70.000/kg dan terendah di Kupang sebesar Rp30.000/kg,” ujar Mendag Agus.

Sebagai informasi, harga bawang merah di tingkat petani saat ini sekitar Rp27.000—28.000/kg, dalam posisi masih di lahan dan kondisi basah. Sementara masih ada proses lanjutan seperti pengeringan, pembersihan, dan ada faktor susut yang terjadi hingga bawang siap dijual secaraeceran. Dari informasi Kementan, pada akhir Mei 2020 akan ada potensi panen raya di sentraproduksi lainnya di luar wilayah Pantura Jawa, seperti Nganjuk, Bima, dan Enrekang. Panen ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pasokan dan menurunkan harga mendekati atau bahkan mencapai tingkat harga wajar (Harga Acuan) Rp.32.000/kg.

Kondisi pasokan indikatif bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati per 28 April 2020 sebesar 93 ton. Rata-rata pasokan harian bawang merah dalam seminggu terakhir sebesar 80 ton/hari, berada di bawah jumlah pasokan normal 98 ton/hari. Dibanding seminggu lalu, harga bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati naik 8,57 persen menjadi Rp38.000/kg.

Komoditas yang Menjadi Perhatian

Sementara itu, ada dua komoditas yang menjadi perhatian yaitu gula dan bawang putih. Harga gula mengalami penurunan dibandingkan sepekan lalu sebesar 1,64 persen menjadi Rp18.000/kg dan tetap masih di atas HET Rp12.500/kg. Harga gula tertinggi terjadi di Manokwari Rp22.000/kg dan terendah di Tanjung Pinang Rp15.000/kg.

Sedangkan harga rata-rata nasional bawang putih Rp.36.900/kg turun 6,82 persen dibandingkan seminggu lalu. Harga bawang putih tertinggi berada di Manokwari Rp.62.500/kg dan terendah tejadi di Jambi Rp.26.000/kg. Rata-rata pasokan indikatif bawang putih di Pasar Induk Kramat Jati dalam seminggu terakhir 44 ton/hari, berada di atas pasokan normal 22 ton/hari.

“Dalam beberapa waktu ke depan, pasokan bawang putih direncanakan akan terus bertambah hingga 66,8 ribu ton,” ujar Mendag Agus.

Upaya Stabilisasi

Upaya stabilisasi terus dilakukan secara terus-menerus. Untuk memenuhi stok gula secara nasional, Kemendag membuat terobosan kebijakan melalui impor raw sugar yang diolah menjadi gula kristal putih (GKP), impor GKP langsung oleh BUMN, serta pengadaan gula dari pabrik di dalam negeri oleh BUMN, meminta Perum BULOG untuk segera merealisasikan pengadaan gula yang berasal dari pabrik gula di Dumai untuk mempercepat pasokan gula ke pasar.

Upaya lain juga dilakukan dengan meminta produsen menurunkan harga jual maksimal Rp11.200/kg kepada distributor untuk gula dalam kemasan karung isi 50 kg (termasuk pajak), dan ketetapan ini berlaku bagi semua produsen gula yang mendapat penugasan. Para distributor jugadiminta menyalurkan gula langsung kepada ritel modern atau pasar rakyat dengan memperhatikan harga di konsumen tetap sesuai HET. Tujuannya untuk memotong rantai distribusi sehingga harga gula bisa turun.

Di samping itu para distributor diinstruksikan tidak menahan stok gula yang dimiliki, serta berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan apabila mendapat pasokan gula dari produsen dengan harga di atas yang disepakati.

Produsen juga diminta melakukan penyaluran gula langsung ke pasar rakyat di DKI Jakarta yang dimulai pada 20 April 2020, dengan melibatkan tim pengawas
Kemendag dan Satgas Pangan guna memantau pelaksanaan komitmen produsen dan distributor untuk menjual gula dengan harga HET.

Optimalisasi Tol Laut juga digunakan sebagai bagian tak tepisahkan dalam memenuhi pasokan gula ke-34 provinsi.

“Kemendag juga membentuk tim pengawas dan pemantau harga/ketersediaan gula di pasar gunamemastikan distribusi gula ke 34 Provinsi dengan harga sesuai HET Rp12.500/kg. Kami pastikan HET gula tidak dievaluasi saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, upaya stabilisasi harga bawang putih dilakukan dengan melakukan relaksasi impor yaitu menerbitkan Permendag Nomor 27 Tahun 2020. Proses impor bawang putih dan bawang bombay tidak memerlukan Persetujuan Impor dan Laporan Surveyor. Permendag tersebut berlaku 18 Maret hingga 31 Mei 2020. Jumlah realisasi impor per 20 April 2020 sebesar 48.898 ton, sedangkan sisanya 25.916 ton akan direalisasikan hingga Agustus.

Realisasi impor ini merupakan bagian dari Persetujuan Impor yang telah diterbitkan Kemendag sebesar 157.000 ton ditambah dengan relaksasi kebijakan impor melalui Permendag nomor 27 tahun 2020 serta tambahan laporan dari 8 importir baru yang melakukan importasi tanpa SPI dan LS. Kemendag dan Satgas Pangan juga telah melakukan pemantauan ke seluruh gudang-gudang importir untuk memastikan bahwa tidak ada yang melakukan penimbunan serta pemantauan secara intensif.

Dalam peninjauan di Pasar Kramat Jati ini, Mendag didampingi Dirjen Perdagangan Dalam NegeriSuhanto, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana, Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Veri Anggrijono serta Kepala Biro Humas Olvy Andrianita. (dag)