October 31, 2020

Misbakhun Dorong Pemerintah Pusat Berikan Stimulus Lebih untuk Hadapi Krisis

Anggota Komisi XI DPR RI. Misbakhun. (Foto : Instagram @mmisbakhun)


Businesstoday.id, Jakarta – Anggota Komisi XI DPR RI Misbakhun mendorong Pemerintah untuk memberikan stimulus kepada masyarakat lebih dari yang dianggarkan Pemerintah senilai Rp 405,1 triliun. Sebab, menurut Misbakhun, saat mengikuti rapat belum lama ini dengan Menteri Keuangan, Bank BUMN, Gubernur BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ia menemukan belum terjadinya kalibrasi yang sama antar Kementerian dan Lembaga mengenai besaran krisis yang akan dihadapi Indonesia selama dan usai pandemi Covid-19.

Pemaparan tersebut disampaikan Misbakhun saat mengikuti Agenda ‘Ngobrol Santai’ bersama Wakil Ketua DPR RI M. Azis Syamsuddin dengan tema ‘Peran DPR RI dalam Menjaga Stabilitas Hukum dan Sustainability Ekonomi serta Solusi Perusahaan dalam menyikapi Krisis Covid-19’ secara virtual, Selasa (14/4/2020). Turut serta dalam agenda tersebut antara lain Ketua Umum APINDO Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum KADIN Roeslan P. Roeslani, Ketua Umum HIPMI Mardani Maming dan para pemimpin redaksi (pemred) media nasional.

“Saya ingin menyampaikan pandangan dalam forum ini. Bahwa, apa yang dilakukan Pemerintah dengan Rp 405,1 triliun sebagai langkah awal menurut saya ini harus kita dorong Pemerintah untuk memberikan stimulus yang lebih. Karena apa, selaku Anggota Komisi XI DPR RI saya beberapa kali rapat dengan Menteri Keuangan, Bank BUMN, Gubernur BI, OJK dan LPS. Di sana saya menemukan belum terjadinya kalibrasi yang sama sebenarnya seberapa dalam krisis ini,” ujar politisi Fraksi Partai Golongan Karya (F-Golkar) tersebut.

Lebih lanjut, legislator dapil Jawa Timur II itu berpandangan, krisis yang akan dihadapi di tahun 2020 ini akan lebih berat dibandingkan dengan krisis moneter tahun 1998 dan krisis keuangan pada 2008 lalu. Misbakhun mengingatkan, Indonesia tidak pernah mengalami krisis yang seperti sekarang ini yaitu krisis pandemic dimana supply dan demand sector terkena imbasnya. Terlebih, dengan adanya penerapan social atau physical distancing.

“Untuk itu, perlu samakan persepsi sizing krisisnya seperti apa. Dari bahan yang ada, apa yang terjadi saat ini akan mengalami situasi lebih dibandingkan Great Depresion 1928, 1998, dan 2008. Kalau saat itu hanya sebagian negara yang terkena dampak, sekarang ini total. Karena, kalau sekarang dari sisi supply dan demand. Saya minta Menkeu benar-benar mengukur, jangan pernah underestimate krisis ini,” tegas Misbakhun.

Tak hanya itu, Misbakhun menyoroti analisa Menteri Keuangan bahwa kemungkinan ekonomi Indonesia sudah tidak tumbuh positif tetapi sudah masuk kategori negatif antara 0,3 persen di kuartal kedua nanti sampai -2,6 persen. “Tapi, Menkeu mengatakan nantinya di kuartal keempat akan ada rebound. Namun, belum diketahui rebound-nya nanti itu akan seperti apa. Maka, saya ingin memastikan bahwa Pemerintah kalau tidak merumuskan stimulus ini sejak awal dalam sebuah paket yang besar maka saya kurang yakin dengan apa yang ditawarkan mengenai confidence pasarnya seperti apa,” tandas Misbakhun. (dpr) #mediamelawancovid19


Leave a Reply

Your email address will not be published.