November 25, 2020

Operasi Pasar Gula Dilanjutkan Hingga Sesuai Harga Eceran Tertinggi

Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto saat meninjau operasi pasar gula di beberapa daerah. (Foto : Instagram @kemendag)


Bisnispost.com, Jakarta – Kementerian Perdagangan masih terus melakukan operasi pasar gula guna untuk menurunkan harga gula pasir agar sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yaitu Rp12.500/kg.

Sampai H+3 Lebaran, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto masih meninjau pasar rakyat sekaligus memantau pergerakan harga barang kebutuhan pokok (bapok) lainnya. Dalam operasi pasar gula di Pasar Jatinegara, Kemendag menyediakan 12 ton gula pasir dan di Pasar Baru Bekasi sebanyak 4 ton gula pasir.

“Operasi pasar gula akan terus dilakukan sampai harga turun dan stabil,” tegas Mendag Agus, Rabu (27/5/2020).

Sampai saat ini, Operasi Pasar Gula yang telah menggelontorkan sebanyak 36.516 ton gula antara lain untuk operasi pasar di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan (Banten), Bogor dan Bekasi (Jawa Barat), seluruh wilayah di DKI Jakarta, Kota dan Kabupaten Malang (Jatim), Bandar Lampung (Lampung), Jambi serta Riau (Kepri).

“Dengan demikian stok gula untuk seluruh wilayah di Indonesia pada masa Lebaran ini sampai masa panen tebu rakyat tiba, dapat saya pastikan cukup dan harga terjangkau masyarakat,” ujar Mendag Agus.

Kementerian Perdagangan menyebutkan per 26 Mei 2020, harga rata-rata nasional gula pasir saat ini telah mengalami penurunan sangat signifikan lebih dari 10,38% dibandingkan pada bulan sebelumnya. Bahkan, di pasar ritel modern, harga gula tetap stabil normal sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp12.500/kg, sedangkan harga rata-rata nasional sudah berada pada kisaran Rp14.000 hingga Rp16.500/kg. Sebelumnya, harga gula pasir melambung tinggi hingga menyentuh Rp 20.000/kg.

Mendag Agus mengungkapkan, dari hasil evaluasi sementara terkait masih tingginya harga gula pasir di masyarakat karena dipicu sejumlah faktor, antara lain bergesernya musim giling tebu rakyat yang biasanya dimulai di bulan Maret bergeser menjadi bulan Juni akibat adanya perubahan iklim, adanya mata rantai distribusi yang cukup panjang untuk sampai ke tangan konsumen, ada pelaku bisnis gula nakal baik produsen, distibutor, maupun pedagang di pasar yang terbukti menahan gula dan mempermainkan harga apalagi di tengah kondisi pandemi COVID-19 seperti saat ini, dan belum maksimalnya realisasi impor oleh pabrik gula berbasis tebu sehingga jadwal produksi dan distribusi gula pasir ke masyarakat mengawali pergeseran jadwal.

“Pasokan impor gula mentah sebagai bahan baku gula pasir yang semula diperkirakan akan masuk di Indonesia pada Maret dan April 2020 bergeser menjadi Mei dan Juni 2020. Begitu juga impor gula pasir langsung (GKP) oleh Bulog juga baru terealisasi bulan Mei dan Juni 2020,” jelas Mendag Agus.

Ia mengungkapkan, pergeseran jadwal impor terjadi akibat beberapa negara juga menjalankan lockdown atau karantina wilayah untuk mengurangi penyebaran COVID-19. Selain itu importir juga kesulitan mencari transportasi angkutan karena adanya protokol kesehatan yang harus dipatuhi negara asal impor.

Sementara itu, terkait pelaku usaha nakal, Kepala Satgas Pangan Irjen Daniel Tahi Monang Silitonga dalam konferensi persnya menyatakan telah menindak 17 pelaku bisnis gula yang nakal.

“Namun semuanya masih kami perlakukan secara persuasif sebagai pembinaan kepada pelaku bisnis. Yang terpenting adalah barangnya beredar untuk mencukupi kebutuhan masyarakat dan ada langkah konkrit penegakan sanksi. Nanti setelah COVID-19, baru akan kami lakukan tindakan hukum lebih tegas,” tukas Daniel.

Dengan berbagai permasalahan tersebut, Kemendag melakukan lima strategi kunci untuk mengatasi gejolak harga gula pasir.

Pertama, Pemerintah menugaskan produsen gula rafinasi untuk mengalihkan produksi gula rafinasi menjadi gula konsumsi sebesar 250.000 ton.

Kedua, meminta produsen dan distributor untuk memutus mata rantai distribusi yang panjang. Gula harus bisa langsung didistribusikan ke pasar rakyat dan ritel modern.

Ketiga, dalam memotong mata rantai distribusi, produsen harus menyalurkan atau menjual gula secara langsung ke pedagang di pasar rakyat dan ke ritel modern. Penjualan ini terus dikawal dan dimonitoring oleh Ditjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) bersama dengan Satgas Pangan agar harga sesuai HET.

Keempat, melakukan Operasi Pasar Gula langsung untuk menurunkan harga secara signifikan. Operasi pasar dilakukan bekerjasama dengan produsen dan distributor gula yang menyalurkan gula secara langsung ke pasar dengan harga sesuai HET Rp12.500/kg.

Kelima, melakukan penindakan kepada pelaku bisnis atau distributor gula yang nakal karena melakukan penyimpangan distribusi gula. Penindakan dilakukan Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) bersama Satgas Pangan.

“Untuk itu, saya minta kepada media masa dan seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama- sama mengawasi perdagangan barang kebutuhan pokok, khususnya gula. Apabila ada indikasi penyimpangan dan penimbunan gula, segera laporkan kepada saya, melalui WA: 085311111010, Selain itu masyarakat juga dapat menghubungi Satgas Pangan,” pungkas Agus. (rad) #mediamelawancovid19