Pasar Saham hingga “Negara Sosialis” akan Jadi Normalitas Baru Ekonomi Pascacovid-19

by -73 views
Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didin S Damanhuri. (Foto : Instagram @kedaibukusinau)

Bisnispost.com, Jakarta – Pandemi Covid-19 telah banyak mengubah tatanan sosial, politik, dan ekonomi. New Normal atau aktivitas normal baru digadang-gadang akan banyak bermunculan jika pandemi berakhir.

Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Didin S Damanhuri mengatakan, dari sektor ekonomi new normal akan membuka fokus dunia pada kelihaian bisnis daring. Pada saat yang sama, secara struktural akan memunculkan tuntutan keadilan (fairness) bisnis dan ekonimi dalam tingkat global maupun nasional.

Dia menjelaskan bahwa pandemi telah membuka realitas ketimpangan ekonomi di kancah global maupun nasional. Ketimpangan itu muncul akibat dari proses gelobalisasi yang merayap sejak era 1980an.

“Mislnya ada 2.135 orang super kaya di dunia sama dengan 60 persen penduduk di dunia yang paling miskin, dan di tingat nasional adalah 1 persen penduduk super kaya menguasai 46,6 persen kekayaan nasional dan 10 persen menguasai 75,3 persen kekayaan nasional,” ujarnya dalam diskusi virtual ‘Meramal Masa Depan Ekonomi Indonesia Paska Covid-19’ Minggu (10/5/2020).

Kedua, pandemi Covid-19 memicu tuntutan yang signifikan dalam pasar saham, pasar modal termasuk pasar uang yang hampir tidak ada aturan. Didin bilang, globalisasi makin tidak preferable terhadap sektor ril dan sangat preferable terhadap sektor keuangan.

“Jadi yang disebut kapitalisme adalah kapitalisme keuangan. Jadi banyak perusahan di negara berkembang yang tadinya produktf dikonversi di pasar-pasar saham,” imbuhnya.

Menurut Didin, kondisi ini akan mencadi ceruk bisnis yang menggiurkan bagi korporasi raksasa dunia maupun nasional. Sehingga, tuntutan untuk merevisi undang-undang pasar modal akan menjadi semakin relevan.

Ketiga, normalitas baru adalah semakin menggeliatnya usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Kondisi ini berkaca dari produksi alat kesehatan hingga kebutuhan pokok yang banyak ditopang para pelaku UMKM.

“Alokasi fiskal pemerintah sekitar Rp405 triliun yang fokus di sektor UMKM karena kita membutuhkan produski nasional itu mmeberikan saatu sinyal bahwa kita membutuhkan kemandirian ekonomi nasional khusunya di kesehatan dan kebutuhan pokok,” papar Didin.

“Saya kira ini tuntuan ekonomi baru, bukan hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia termasuk negara maju. Karena pola lockdown yang masih relatif punya kelincahan di dalam berproduksi adalah UMKM,” imbuhnya.

Ralitas normal baru adalah munculnya para dermawan. Artinya, pandemi Covid-19 telah meningkatkan jiwa sosial yang tinggi, bantu membantu selama menghadapi krisis, baik dari sisi produksi maupun konsumsi. Didin menyebutnya sebagai bangkitnya sisi religiusitas publik.

”Terakhir sekali bahwa nanti saya kira, ada sebuah istilah kita dipaksa untuk menjadi sosialis. Sekarang dengan negara dengan kebijakan fiskalnyalah yang diandalkan sementara sektor swatsa agak berhenti, dan saya kira peranan negara adalah ciri baru di dunia dipaksa menjadi active state bukan semata-mata sosialsis tapi dengan ciri-ciri religiusitas,” tuturnya, seperti dikutip Indonesiainside.id (*/ins) #mediamelawancovid19

No More Posts Available.

No more pages to load.