October 30, 2020

Bos MRA Group, Penyuap Eks Dirut Garuda Akhirnya Dituntut 10 Tahun Penjara

Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi, Soetikno Soedarjo. (Foto: Instagram @prestigeindonesia)


Businesstoday.id, Jakarta – Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut Pendiri sekaligus mantan Direktur Utama PT Mugi Rekso Abadi Soetikno Soedarjo selama 10 tahun penjara dan denda sebesar Rp 10 miliar subsider 8 bulan kurungan penjara.

Persidangan dilangsungkan dengan cara video conference. Majelis hakim berada di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta sedangkan JPU) KPK berada di gedung Merah Putih KPK, sementara penasihat hukum dan Soetikno berada di gedung KPK Jakarta.

Soetikno adalah terdakwa penyuap eks Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam kasus dugaan suap terkait pengadaan pesawat dan mesin pesawat di PT Garuda Indonesia serta terdakwa kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Kami menuntut agar Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi memutuskan, menyatakan terdakwa Soetikno Soedarjo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan tindakpidana pencucian uang,” ucap Jaksa KPK, Ariawan Agustiartono yang dibacakan dalam sidang via teleconference, di Gedung KPK, Kamis (23/4/2020).

Tuntutan itu berdasarkan dakwaan pertama pasal 5 Ayat 1 Huruf b UU No. 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20/2001 pasal 65 Ayat 1 KUHP.

JPU KPK juga menuntut Soetikno membayar uang pidana pengganti sebesar USD14.619.937,58 dan 11.553.190,65 Euro.
Jaksa menilai, Soetikno terbukti menyuap Emirsyah dengan jumlah keseluruhan Rp8,859 miliar, 884.200 dolar AS, 1.020.975 euro dan 1.189.208 dolar Singapura (atau sekitar Rp 46,3 miliar). Suap itu supaya Emirsyah dapat memuluskan sejumlah pengadaan yang sedang dikerjakan oleh PT Garuda Indonesia.

Suap tersebut terdiri atas pemberian uang dari Rolls-Royce Plc melalui PT Ardyaparamita Ayuprakarsa dan Connaught International terkait TCP mesin RR Trent 700 untuk 6 (enam) unit pesawat Airbus A330-300 PT Garuda Indonesia yang dibeli tahun 1989 dan 4 (empat) unit pesawat yang disewa dari AerCAP dan International Lease Finance Corporation (ILFC).

“Bahwa uang fee tersebut nyata merupakan hasil tindak pidana korupsi berupa suap yang diberikan oleh terdakwa kepada Emirsyah Satar selaku Direktur Utama PT Garuda Indonesia periode tahun 2004-2014. Bahwa Emirsyah Satar merupakan pemilik sebenarnya/penerima manfaat (beneficiary owner) dari Woodlake International Limited dan juga pemilik rekening atas nama Woodlake International di Union Bank Of Switzerland (UOB),” pungkas jaksa Ariawan. (*/kea)


Leave a Reply

Your email address will not be published.