October 29, 2020

SCBD Pamit dari Pasar Modal, Ini Profil Tomy Winata Sang Konglomerat di Baliknya

Pengusaha, Tomy Winata. (Foto : Instagram @millielukito7)


Businesstoday.id, Jakarta – Sudirman Central Business District atau PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD) merupakan kawasan bisnis yang terletak di Jakarta Selatan, Indonesia milik Tomy Winata. Per hari ini, Senin (20/4/2020) PT Danayasa Arthatama Tbk (SCBD) resmi pamit dari keanggotaan pasar modal.

Tomy Winata alias Oe Suat Hong adalah salah seorang pengusaha sukses Indonesia keturunan Tionghoa. Pria kelahiran 23 Juli 1958 yang memiliki panggilan akrab TW ini menjalankan bisnis di berbagai bidang.

Mulai dari properti, konstruksi, perdagangan, perhotelan, perbankan, transportasi, dan juga telekomunikasi di bawah Grup Artha Graha yang dimilikinya.

TW dulunya merupakan seorang yatim-piatu miskin. Ia mulai merintis hubungan bisnisnya dengan pihak militer di tahun 1972, pada saat ia dipercaya membangun kantor koramil di Singkawang. Sejak itu, hubungan bisnisnya dengan kalangan militer, terutama dengan beberapa perwira menengah dan tinggi, terus berlangsung.

Dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun, TW berhasil mengembangkan kerajaan bisnisnya dengan membangun mega proyek Sudirman Central Business District (SCBD) dengan nilai investasi sebesar USD 3,25 miliar bersama Yayasan Kartika Eka Paksi milik Angkatan Darat.

Bisnis milik TW pun kian menggurita. TW berperan besar dalam pembangunan Bukit Golf Mediterania, Kelapa Gading Square, The City Resorts, Mangga Dua Square, Pacific Place dan masih banyak lagi.

Selain itu, ia juga memiliki sejumlah kapal pesiar dan usaha pariwisata yang dikelolanya di Pulau Perantara dan Pulau Matahari di Kepulauan Seribu. Hal itu semakin mencatatnya sebagai konglomerat sukses Indonesia.

Namun, kesuksesannya dalam dunia bisnis tak lepas dari beragam isu dan kasus. Ia bahkan dikabarkan termasuk ke dalam sembilan anggota mafia judi bersandi “Sembilan Naga” yang beroperasi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Makao.

Pada Mei 2000, ia sempat ditengarai menjalankan bisnis judi besar-besaran di Kepulauan Seribu sehingga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang kala itu menjabat sebagai Presiden RI menyerukan agar Tommy Winata ditangkap.

Namun, ketika inspeksi mendadak dilakukan oleh aparat dan Komisi B (Bidang Pariwisata) DPRD DKI Jakarta ke pulau itu, tak ada satupun bukti yang menunjukkan bahwa TW menjalankan bisnis perjudian di sana.

Tak hanya itu, nama Tomy Winata juga dicatut ke dalam peristiwa 27 Juli 1996 dengan dalih memiliki andil penyerbuan kantor DPP PDI di Jakarta Pusat. Lalu, ia juga diduga berada di balik penyerangan kantor Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) di Jakarta, pertengahan tahun 2002.

Bulan Maret 2003, TW kembali dituding menjadi tokoh di balik layar pengerahan dua ratusan massa yang berunjuk rasa memprotes tuduhan terlibatnya TW dalam peristiwa terbakarnya pasar Tanah Abang yang dimuat dalam majalah Tempo edisi 3-9 Maret 2003.

Parahnya lagi, aksi unjuk rasa ini berbuntut pada tindak kekerasan terhadap tiga wartawan Tempo dan pemimpin redaksi serta perusakan gedung majalah dan koran Tempo. Meski demikian, TW membantah seluruh tuduhan yang ditujukan padanya.

Meski demikian, disamping usaha bidang komersiil, Tomy Winata juga dikenal sebagai pendiri Artha Graha Peduli, sebuah Yayasan sosial, kemanusiaan dan lingkungan yang sering turun membantu masyarakat di banyak daerah di Indonesia. Demikian, seperti dikutip Wartaekonomi.co.id. (*/war)


Leave a Reply

Your email address will not be published.