October 20, 2020

Sungkan Terhadap China, Indonesia Lambat Mengambil Kebijakan Corona


Oleh : DR Rizal Ramli, Mantan Menko Kemaritiman RI.

PADA awal Corona, respons Indonesia sangat lambat dan terlambat padahal di Wuhan telah terjadi akhir tahun 2019. Kelambatan tsb terutama karena ‘sungkan’ takut menyinggung Tiongkok. Kedua, pejabat2 RI mengambil sikap ‘self-denial’ (menolak kenyataan). Kita kehilangan 2,5 bulan.

Kita kehilangan waktu yg sangat berharga, 2,5 bulan, untuk scanning, monitoring dan testing potensi penularan corona. Itulah yg menyebabkan negara2 lain seperti Australia, Singapore, WHO tidak percaya pada statistik kasus corona di indonesia.

Respons kebijakan pertama thd corona sangat ngawur, yaitu rencana untuk membiayai influencers senilai Rp72milyar & subsidi airline utk meningkatkan turisme. Bener2 ngawur, seluruh dunia mau kurangi turis asing, ini malah mau tingkatkan. Kwalitas orang disekitar Jkw payah.

Masih saja izinkan pekerja2 Tiongkok utk masuk Indonesia hanya karena kepentingan bisnis pejabat-cum-penguasa. Sing eling eui, ingat kepentingan nasional !! Nora amat sih.

Sebagai bangsa memang kita terbiasa dan sangat asyik klo membahas apa yang terjadi hari ini, tetapi tidak terlatih untuk melihat dan melakukan antisipasi terhadap masa depan. Sehingga sering terlambat jika menghadapi shocks global spt corona.

Jika tidak ada corona, ekonomi Indonesia memang terus anjlok karena salah kelola, mabok utang & pengetatan makro, ekonomi hanya akan tumbuh 4% tahun 2020. Klo tindakan thd corona effektif, ekonomi hanya akan anjlok lagi -1%. Tapi jika tidak effektif, ekonomi akan anjlok -2% lagi.

Untuk mengurangi dampak corona thd ekonomi, ini waktunya utk menggeser secara radikal dgn melakukan realokasi APBN 2020. Stop (moratorium) proyek2 infrastruktur besar 2020. Harus berani, jangan gengsi. Alokasikan hanya untuk sektor kesehatan, makanan dan daya beli rakyat miskin.

Indonesia saat ini bukan negara kaya, sehingga jangan lakukan ‘macro pumping’ dan jangan ada ‘buyback’ saham2 BUMN lain2. Amerika saja yg negara kaya, melakukan pumping macro ratusan milyar dollar lewat FED ternyata tidak effektif, hanya kurang 2 jam index naik, habis itu anjlok.

Korea Selatan termasuk negara yg paling effektif dalam menangani pandemik corona karena mereka belajar dari kasus SARS, evaluasi apa2 yg effektif dan siapkan SOP (Standard Procedures) Ketika serangan Corona, sudah ada SOP yang siap-pakai tanpa perlu banyak rapat dan koordinasi.

Gunakan momentum pandemic corona ini, untuk menggenjot produksi dalam negeri, seperti pertanian, buah2an dan sayur2an. Bantu kredit, bibit, pupuk sehingga bisa panen setiap 3 bulan. Ajak IPB untuk bantu peta kecocokan tanah. Jangan bisanya imporr import doang. Payah amat sih.

Nilai tukar Rupiah makin anjlok, sudah Rp15.200/$, dan index IHSG sudah anjlok dari 6000an ke 4500an. Jangan biarkan mata uang Rupiah dan Index terombang-ambing dengan shocks dan volatilitas yg sangat besar. Ubah flexible exchange menjadi fixed exchange di 15.500/$ utk 1 tahun.

Jangan biarkan external & internal shock dengan volatilitas yg sangat besar merusak ekonomi dan korporasi nasional. Bekukan perdagangan saham sampai waktu yg belum ditentukan. Toh kalau dibuka terus, akan semakin anjlok, dan akan semakin panik.

Ini adalah momentum untuk tukar (swap) utang2 Indonesia yg yield-nya sangat tinggi (7-8%), karya Menkeu ‘Terbalik’ yg sangat merugikan bangsa kita. Kerugian krn bond kemahalan itu 110-120T. Padahal yield bond di Jepang, Eropah negatif. Segera negosiasi swap bond, menghemat 110T!

Soal penjelasan dan tindakan preventif dan kuratif menghadapi corona, pujian perlu diberikan kepada Gubernur Anies Baswedan. Bravo. Jelas, terukur dan persuasif dibandingkan pejabat2 pemerintah pusat.


Leave a Reply

Your email address will not be published.