Pertumbuhan pasar modal Indonesia memasuki fase yang menuntut lebih dari sekadar bertambahnya jumlah investor. Di balik ekspansi pasar, terdapat kebutuhan yang semakin besar terhadap literasi keuangan, kualitas sumber daya manusia, kesiapan perusahaan mengakses pasar modal, serta sinergi antara regulator, pelaku industri dan organisasi profesi.
Persoalan tersebut menjadi salah satu benang merah dalam Seminar Nasional Pelaku Pasar Modal yang digelar Perkumpulan Profesi Pasar Modal Indonesia (PROPAMI) di Ballroom Suagi, The Papadanyan Hotel, Bandung, Sabtu (26/9/2026).
Mengangkat tema “Masa Depan Pasar Modal Indonesia: Sinergi Kebijakan, Industri, dan Profesi untuk Pertumbuhan Berkelanjutan”, forum tersebut mempertemukan pengurus dan anggota profesi pasar modal, regulator, legislator, pelaku usaha, bursa efek serta akademisi.
Forum ini tidak sekadar membicarakan bagaimana pasar modal tumbuh, tetapi juga bagaimana pertumbuhan tersebut dapat ditopang oleh ekosistem yang semakin matang.
Dari Pertumbuhan Investor ke Kualitas Literasi
Salah satu isu yang mengemuka adalah pentingnya memperluas pemahaman masyarakat terhadap investasi pasar modal.
Ketua Umum PROPAMI NS. Aji Martono menekankan peran pelaku profesi dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat dan investor di berbagai daerah.
Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap instrumen investasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung perkembangan basis investor di Indonesia.
Persoalannya bukan semata berapa banyak masyarakat yang masuk ke pasar modal, tetapi seberapa jauh mereka memahami karakteristik investasi, risiko dan mekanisme pasar.
Karena itu, penguatan literasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda pengembangan pasar modal.
Semangat tersebut juga tercermin dalam penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PROPAMI.
Kerja sama tersebut mencakup kegiatan edukatif, peningkatan literasi keuangan berkelanjutan serta penguatan sinergi antara Kantor Perwakilan BEI dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PROPAMI yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pasar modal tidak hanya berlangsung di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga membutuhkan penguatan ekosistem di tingkat regional.
Baca Juga:
Reconova Debut di Ajang PTE Asia 2026, Dorong Ekspansi Smart Aviation Berbasis Embodied Intelligence
Hollyland WeConnect 2026 Soroti Hal yang Tak Tergantikan di Era AI
Ketika Perusahaan Bersiap Masuk Bursa
Dari sisi korporasi, pasar modal menawarkan salah satu jalur untuk memperoleh sumber pendanaan jangka panjang.
Namun, keputusan perusahaan untuk melantai di bursa bukan sekadar persoalan memperoleh modal.
Kesiapan perusahaan, tata kelola, transparansi, kualitas informasi serta penilaian terhadap perusahaan menjadi bagian penting dalam proses menuju perusahaan terbuka.
Perspektif tersebut dibahas oleh Saidu Solihin, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia, dalam sesi diskusi panel.
Pembahasan mengenai penilaian perusahaan menjadi relevan terutama bagi korporasi yang tengah mempersiapkan diri untuk melakukan Initial Public Offering (IPO).
Masuk ke pasar modal membawa konsekuensi baru bagi perusahaan. Di satu sisi terdapat peluang memperoleh akses pendanaan yang lebih luas. Di sisi lain, perusahaan dituntut meningkatkan standar tata kelola dan keterbukaan kepada publik.
Baca Juga:
Shanghai Electric Hadirkan Tiga Solusi Transisi Energi di Enlit Asia 2026
Gravity Game Unite Sukses Hadirkan Ragnarok Zero: Global di Gaming Istanbul 2026
Dengan demikian, kesiapan menuju pasar modal tidak berhenti pada persoalan finansial, tetapi juga menyangkut kesiapan institusional.
Menghubungkan Pasar Modal dengan Dunia Usaha
Pasar modal juga tidak berdiri sendiri dalam ekosistem pembiayaan nasional.
Perspektif tersebut hadir melalui Bobby Cahyadi, Direktur Utama Jamkrida Jawa Barat, yang membawa isu penjaminan dan dukungan terhadap dunia usaha, khususnya sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Bagi pelaku usaha, akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan dan memperluas skala bisnis.
Karena itu, keberadaan lembaga penjaminan memiliki posisi strategis dalam mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan sumber pembiayaan.
Diskusi di Bandung memperlihatkan bagaimana berbagai instrumen dalam sistem keuangan dapat saling terhubung, mulai dari pasar modal, pembiayaan usaha hingga mekanisme penjaminan.
Akademisi Membaca Arah Industri Keuangan
Sementara itu, Dr. Erman Sumirat memberikan perspektif akademik mengenai perkembangan industri keuangan yang semakin terintegrasi.
Perubahan teknologi, dinamika ekonomi dan berkembangnya berbagai instrumen keuangan membuat batas antara satu sektor dengan sektor lainnya semakin dinamis.
Karena itu, perkembangan pasar modal membutuhkan perspektif yang tidak hanya melihat aktivitas perdagangan saham, tetapi juga memahami keterkaitannya dengan sistem keuangan dan perekonomian secara lebih luas.
Diskusi panel yang menghadirkan unsur bursa, lembaga penjaminan dan akademisi tersebut dipandu oleh Dr. David Nathanael Sutyanro.
Kombinasi perspektif tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan pasar modal merupakan proses lintas sektor yang membutuhkan koordinasi antara berbagai pemangku kepentingan.
Regulasi Menjadi Bagian dari Mesin Pertumbuhan
Dimensi kebijakan dan regulasi turut menjadi bagian penting dalam seminar nasional tersebut.
H. Fathi, Anggota Komisi XI DPR RI, hadir memberikan perspektif kebijakan, sementara Edi Broto Suwarno, Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menyampaikan keynote speech.
Kehadiran unsur legislatif dan regulator mempertemukan perspektif kebijakan dengan dinamika industri dan kebutuhan profesi pasar modal.
Dalam industri keuangan, regulasi tidak hanya berkaitan dengan pengawasan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kepercayaan dan menciptakan lingkungan pasar yang memiliki kepastian aturan.
Di tengah perkembangan industri yang semakin kompleks, keseimbangan antara inovasi, pertumbuhan dan pengawasan menjadi salah satu tantangan yang harus terus dikelola.
SDM: Fondasi yang Sering Tak Terlihat
Di balik perkembangan pasar modal terdapat faktor lain yang menentukan keberlanjutan industri: sumber daya manusia.
Semakin kompleks produk dan aktivitas industri jasa keuangan, semakin besar pula kebutuhan terhadap tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan standar keahlian yang memadai.
PROPAMI menempatkan peningkatan kapasitas anggota sebagai salah satu bagian penting dari misi organisasinya.
Organisasi tersebut membawa visi menjadi organisasi profesi yang bermartabat dan beretika serta berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, keberadaan Lembaga Sertifikasi Profesi Pasar Modal (LSPPM) menjadi bagian dari ekosistem pengembangan kompetensi profesional di sektor pasar modal.
Kebutuhan terhadap SDM yang kompeten akan terus menjadi isu penting seiring berkembangnya industri jasa keuangan dan pasar modal nasional.
Sebab, pasar yang semakin besar membutuhkan profesional yang tidak hanya memahami mekanisme industri, tetapi juga memiliki kompetensi dan standar etika dalam menjalankan profesinya.
RUAT 2026: Menentukan Arah Organisasi
Agenda Bandung tidak berhenti pada seminar nasional.
PROPAMI juga menggelar Rapat Umum Anggota Tahunan (RUAT) 2026, yang dihadiri jajaran dan perwakilan DPW PROPAMI dari berbagai wilayah Indonesia.
RUAT menjadi ruang organisasi untuk mengevaluasi program, membahas agenda tahunan serta menentukan arah kerja PROPAMI ke depan.
Dengan demikian, forum tersebut memiliki dua dimensi sekaligus: ruang publik untuk mendiskusikan masa depan pasar modal dan ruang internal organisasi untuk memperkuat kapasitas profesi.
Menjaga Momentum Pertumbuhan
Seminar nasional PROPAMI di Bandung memperlihatkan satu realitas penting: pertumbuhan pasar modal tidak dapat dilepaskan dari kualitas ekosistem yang menopangnya.
Investor membutuhkan literasi. Perusahaan membutuhkan kesiapan dan akses pendanaan. Pelaku usaha membutuhkan dukungan pembiayaan. Regulator membutuhkan tata kelola dan pengawasan yang adaptif. Sementara industri membutuhkan tenaga profesional yang kompeten dan beretika.
Di titik inilah sinergi antara kebijakan, industri dan profesi menjadi relevan.
Bagi PROPAMI, agenda tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai unsur pasar modal melalui edukasi, diskusi, pelatihan dan pengembangan profesional berkelanjutan.
Sebab, ketika pasar modal bergerak menuju fase pertumbuhan berikutnya, tantangannya bukan lagi sekadar memperbesar ukuran pasar.
Yang jauh lebih menentukan adalah seberapa kuat fondasi yang dibangun untuk memastikan pertumbuhan tersebut berlangsung secara berkelanjutan.****















